Beberapa minggu lalu saya dan teman berkunjung ke sebuah SMA di kota kami. Yah, silaturahmi sekaligus promosi universitas tempat kami bekerja. Berhubung teman saya asalnya dari SMA itu, kami mendapat akses untuk masuk ke salah satu kelas, mengisi jam kosong. Kelas ini adalah kelas khusus yang dihuni 20 anak berotak cerdas, dengan IQ superior. Di kelas itu mereka digembleng dengan materi yang kesulitannya juga di atas rata-rata.
Singkat cerita, temanku melakukan tes "cara belajar" pada mereka. Sepanjang temanku bicara, anak-anak itu aktif menyahut dengan celotehan nakal khas remaja. Sampai pada satu titik temanku bertanya, "Setelah lulus dari SMA, kalian mau kuliah di mana?" Tak kusangka, pertanyaan iseng itu langsung mengubah suasana kelas. Mereka sontak terdiam. Temanku sama kagetnya dengan aku. Dia mengulangi lagi pertanyaannya, kali ini lebih spesifik. "Kalian mau kuliah di jurusan apa?" Bukannya makin jelas, anak-anak itu makin terlihat bingung dan saling menoleh. Akhirnya salah satu anak menjawab, "Masih bingung..."
Kebingungan anak-anak SMA itu mengingatkanku pada situasi sama yang sering aku lewatkan bersama mahasiswa-mahasiswaku.
Pada anak-anak semester 1 aku bertanya, "Setelah lulus kalian mau melakukan apa? Apa alasan kalian masuk ke jurusan ini?" Jawaban mereka: bingung. "Baru semester 1, Miss. Belum bisa membayangkan."
Ketika mereka menginjak semester 5, aku bertanya, "Sudah tau mau masuk penjurusan apa? Sudah ada bayangan mau kerja di bidang apa?". "Makin banyak pilihan makin bingung Miss," jawab mereka
Saat mereka sedang mengerjakan skripsi dan gelar sarjana sudah di depan mata, aku bertanya lagi. "Apa rencanamu setelah lulus?" Mereka menatapku dengan sedih. "Justru itu Miss. Kalau dipikir-pikir, lebih enak kuliah. Kalau lulus, mesti buat keputusan mau ngapain. Padahal belum tau mau apa setelah ini."
Di hari wisuda aku menatap mereka dan bertanya, "Setelah ini bagaimana?" Mereka tertawa. "Ini hari bahagia Miss, jangan ajukan pertanyaan-pertanyaan sulit!"
Aku terdiam. Merenung. Anak-anak muda ini -yang pandai, yang aktif, yang kreatif- kehilangan sesuatu yang lebih dari sekadar "tahu mau kerja di mana". Mereka tidak hanya bingung di antara banyak pilihan. Lebih dari itu, mereka tidak punya tujuan hidup. Ada yang berusaha mencari, namun belum yakin. Tapi banyak juga yang tak tahu bahwa hidup ini harus ada tujuannya.
Memang tak semua mahasiswaku segamang itu. Ada yang sudah punya kemantapan hati dan dengan segala daya upaya mengarahkan langkahnya ke sana. Tapi harus kuakui, lebih banyak yang bimbang daripada yang yakin.
Seorang teman pernah mengatakan, "Hanya ada dua kunci untuk meraih kegagalan. Tidak punya tujuan hidup, dan kalaupun ada, tujuan itu salah!" Huff...masalahnya banyak orang yang tak sadar. Hidup itu mengalir. Well, tapi bukankah air sungai pun punya tempat perhentiannya?
Ketika kita berdiri di depan gerbang rumah dan sudah tahu akan menuju ke mana, kita akan mudah menentukan naik kendaraan apa (meskipun ada banyak pilihan). Kita juga akan yakin menentukan arah. Bahkan kita bisa menentukan apakah kita akan pergi sendiri atau mengajak teman. Mengapa? Karena kita sudah tahu tujuannya. Kalau kita belum tahu, -jangankan memilih kendaraan- melangkah keluar dari rumah pun kita tak berani.
So, what is your dream?
What is your goal?
What is passion?
What is your vision?
Have you ever think about it?
excelso. surabaya.
