Sunday, November 18, 2012

Gadis #1. 2012.



Halo lagi. Sangat lama tidak berjumpa dalam wadah ini. :D
Kebanyakan sapaan, gurauan, maupun diskusi sejauh ini memang hanya berlangsung dalam konferensi telfon pandai sejuta umat Indonesia.

Setelah bingung untuk memposisikan isi posting apa yang sebaiknya tidak overlapping dengan blog pribadi masing-masing gadis, saya kini berkesimpulan. Blog ini akan berisi tentang pembicaraan kami pada konferensi 'biasanya' tersebut. Hanya ini, dalam kondisi lebih detail, setelah melewati proses seleksi 'yang sepatutnya didokumentasikan.'

November 2012.

Kini saya sudah 4 bulan kembali ke kota asal, Surabaya. Persis setelah menyelesaikan sidang komprehensif Tugas Akhir S2, sesuai janji saya kepada orang 'rumah', saya kembali.
Memantapkan diri untuk akhirnya terjun ke bisnis keluarga di bidang distribusi food and beverage bukanlah hal yang mudah. Terlebih setelah secara bertahap maupun konsisten saya telah mengarahkan diri untuk merapat ke arah industri yang 'kurang' berkaitan dengan bisnis keluarga ini. Namun itulah menariknya kehidupan.

Ketika kita memutuskan untuk berbelok dengan sebuah kesadaran, ada kedamaian yang tetap menguatkan. Ada keyakinan yang tetap mengarahkan. ;)
Berita selengkapnya tentang perjalanan perantauan pribadi tentu boleh dicek secara detail di valencialeonata.blogspot.com

Jika dalam masa perantauan si Gadis #1 bisa berkesempatan menghabiskan banyak waktu tatap muka dengan Gadis #2 (karena kami sekota), kali ini sebaliknya. Giliran Gadis #2 yang 'sendirian' berada di ibukota. Gadis #1 dan #3 sama-sama di kota Pahlawan, meski frekuensi pertemuan tetaplah jarang. Well, tapi kami menyempatkan waktu untuk melangsungkan perjalanan cadas naik gunung bersama ;p.

Lucunya meski Beda kota, sama kota, saya rasa tidak akan terlalu ada 'perbedaan' dalam persahabatan kami bertiga. Karena semenjak awal kedekatan kami memang tidak berlandaskan kuantitas pertemuan. Saya kerap kali merasakan keunikan berharga di antara hubungan ini. Khususnya ketika embel-embel dosen-mahasiswa (hubungan yang pertama kali mempertemukan kita bertiga) sudah hilang. Sungguh menarik ketika seorang mahasiswa bisa dekat dengan dosennya 'yang kecil' mulai dari diskusi tentang teori komunikasi, curhat urusan cinta, kecintaan pada Ubud, guyonan alay, obrolan keluarga, menyampah urusan kerjaan, bersimbiosis urusan 'lirik undangan' - transaksi makanan impor/buah2an-, korah-korah piring bersama di pinggir kali, dan lain sebagainya.

Atau ketika akhirnya saya melihat pertumbuhan pertalian di antara kita bertiga selama hmmm 5 tahun belakangan?

;')



Terima kasih the Tuns.
Saya boleh mengalami hubungan dosen-mahasiswa dekat bukan karena 'ingin dapat dispensasi nilai bagus' ataupun 'merasa pintar bisa gaoel dengan dosen.'

Saya boleh melewati banyak diskusi-debat tukar pendapat panjang lebar secara jujur, apa adanya, dan saling membangun.

Saya boleh dimotivasi dan belajar terus memotivasi satu sama lain lewat banyaknya perbedaan latar belakang serta karakter yang ada.

Saya boleh banyak belajar bahwa ada 'kedekatan' yang sungguh tidak bisa diukur oleh apa pun. Bahwa ikatan untuk memahami, saling update itu terus tumbuh, seiring dengan perubahan dalam dunia kita masing-masing.

Saya rasa 2012 merupakan salah satu tahun 'penting' bagi kami bertiga.
Gadis #3 akan menikah pada akhir tahun ini. (Gadis #1 dan #2 jadi pengapitnya lohhh)
Gadis #2 masuk ke dunia kerja baru, akan segera lulus s2, akan pindah ke lingkungan tinggal yang baru.
Gadis #1? Masuk ke realita dunia kerja.

Apapun perubahan kepentingannya, 3 gadis dalam 'kota' nya masing-masing tetap akan berjumpa dalam kotak konferensi 'biasanya'.

Dan tetap menulis.

Saturday, April 9, 2011

Gadis #3 G.O.A.L


Beberapa minggu lalu saya dan teman berkunjung ke sebuah SMA di kota kami. Yah, silaturahmi sekaligus promosi universitas tempat kami bekerja. Berhubung teman saya asalnya dari SMA itu, kami mendapat akses untuk masuk ke salah satu kelas, mengisi jam kosong. Kelas ini adalah kelas khusus yang dihuni 20 anak berotak cerdas, dengan IQ superior. Di kelas itu mereka digembleng dengan materi yang kesulitannya juga di atas rata-rata.

Singkat cerita, temanku melakukan tes "cara belajar" pada mereka. Sepanjang temanku bicara, anak-anak itu aktif menyahut dengan celotehan nakal khas remaja. Sampai pada satu titik temanku bertanya, "Setelah lulus dari SMA, kalian mau kuliah di mana?" Tak kusangka, pertanyaan iseng itu langsung mengubah suasana kelas. Mereka sontak terdiam. Temanku sama kagetnya dengan aku. Dia mengulangi lagi pertanyaannya, kali ini lebih spesifik. "Kalian mau kuliah di jurusan apa?" Bukannya makin jelas, anak-anak itu makin terlihat bingung dan saling menoleh. Akhirnya salah satu anak menjawab, "Masih bingung..."

Kebingungan anak-anak SMA itu mengingatkanku pada situasi sama yang sering aku lewatkan bersama mahasiswa-mahasiswaku.

Pada anak-anak semester 1 aku bertanya, "Setelah lulus kalian mau melakukan apa? Apa alasan kalian masuk ke jurusan ini?" Jawaban mereka: bingung. "Baru semester 1, Miss. Belum bisa membayangkan."

Ketika mereka menginjak semester 5, aku bertanya, "Sudah tau mau masuk penjurusan apa? Sudah ada bayangan mau kerja di bidang apa?".  "Makin banyak pilihan makin bingung Miss," jawab mereka

Saat mereka sedang mengerjakan skripsi dan gelar sarjana sudah di depan mata, aku bertanya lagi. "Apa rencanamu setelah lulus?"  Mereka menatapku dengan sedih. "Justru itu Miss. Kalau dipikir-pikir, lebih enak kuliah. Kalau lulus, mesti buat keputusan mau ngapain. Padahal belum tau mau apa setelah ini."

Di hari wisuda aku menatap mereka dan bertanya, "Setelah ini bagaimana?" Mereka tertawa. "Ini hari bahagia Miss, jangan ajukan pertanyaan-pertanyaan sulit!"

Aku terdiam. Merenung. Anak-anak muda ini -yang pandai, yang aktif, yang kreatif- kehilangan sesuatu yang lebih dari sekadar "tahu mau kerja di mana". Mereka tidak hanya bingung di antara banyak pilihan. Lebih dari itu, mereka tidak punya tujuan hidup.  Ada yang berusaha mencari, namun belum yakin. Tapi banyak juga yang tak tahu bahwa hidup ini harus ada tujuannya.

Memang tak semua mahasiswaku segamang itu. Ada yang sudah punya kemantapan hati dan dengan segala daya upaya mengarahkan langkahnya ke sana. Tapi harus kuakui, lebih banyak yang bimbang daripada yang yakin.

Seorang teman pernah mengatakan, "Hanya ada dua kunci untuk meraih kegagalan. Tidak punya tujuan hidup, dan kalaupun ada, tujuan itu salah!" Huff...masalahnya banyak orang yang tak sadar. Hidup itu mengalir. Well, tapi bukankah air sungai pun punya tempat perhentiannya?

Ketika kita berdiri di depan gerbang rumah dan sudah tahu akan menuju ke mana, kita akan mudah menentukan naik kendaraan apa (meskipun ada banyak pilihan). Kita juga akan yakin menentukan arah. Bahkan kita bisa menentukan apakah kita akan pergi sendiri atau mengajak teman. Mengapa? Karena kita sudah tahu tujuannya. Kalau kita belum tahu, -jangankan memilih kendaraan- melangkah keluar dari rumah pun kita tak berani.

So, what is your dream?
What is your goal?
What is passion?
What is your vision?
Have you ever think about it?

excelso. surabaya.

Monday, March 28, 2011

Gadis #3. Salute!


Hola, salam kenal!

Saya seorang gadis berusia 27 tahun 3 bulan.

Bekerja sebagai seorang pendidik di sebuah universitas swasta di Surabaya.
Bergumul dengan thesis dalam rangka meraih gelar M.Med.Kom. di sebuah universitas negeri di Surabaya.

Secara fisik, saya lebih sering disangka sebagai 'mahasiswa' ketimbang 'dosen'. Beberapa orang memasukkan saya dalam golongan hobbit, alias tidak tinggi dan agak bulat. Yeah, saat ini sedang dalam usaha membuang beberapa kilo lemak tak perlu!

Sulit memasukkan saya dalam kategori karakter tertentu. Meski bukan turunan Sailormoon, namun saya bisa berubah karakter sesuai kondisi. Yang jelas, saya sangat moody. Sometimes, I could be a great pretender. Jadi, menganalisis kepribadian saya tampaknya tak terlalu mudah ;)

Seumur hidup saya belum pernah meninggalkan kota tercinta -Surabaya- untuk waktu yang lama.  Kalaupun suatu waktu saya harus hijrah ke tanah lain, Surabaya will always be my home.

Tulisan-tulisan di blog ini akan menjadi cikal bakal perwujudan mimpi saya.
Saya ingin menulis.
Saya ingin tulisan saya dibaca.
Saya ingin berbagi hidup.
Saya ingin menjadi inspirasi.

Gadis #1 dan #2 adalah 'mantan' mahasiswa saya. Kini setelah mereka lulus, kami berteman saja, tanpa strata. Dulu mereka memanggil saya 'MD'. Namun sejak bergabung dengan klub desTUNys, saya diberi gelar baru: 'MDtun'.

Gadis #2. Hello!

Hello.
Saya kini berusia 22 tahun 9 bulan
Sebetulnya berbasis di Surabaya tetapi mulai April akan pindah ke Kuta, Bali, untuk proses magang di majalah traveling-kuliner.

Gadis #1 dan Gadis #3 adalah teman seangkatan dan dosen saya semasa pendidikan S1 di mana keduanya berkonsentrasi di Jurnalistik sedangkan saya adalah mahasiswa peminatan Broadcast TV. Kerap kali saya yang juga suka diskusi dengan beberapa kawan Jurnalistik, seringkali dikira konsentrasi itu. "Lho, bukannya kamu anak Jurnalistil?"

Tak banyak yang tahu menggemari berbagai serial televisi produksi Amerika Serikat adalah hobi saya sejak SMA. Membuat saya melahap mulai dari serial remaja/komedi/musikal seperti Glee, serial remaja/thriller seperti Pretty Little Liars, serial kedokteran seperti House dan Grey's Anatomy, hingga drama keluarga seperti Brothers and Sisters. 

Akhir-akhir ini mulai memiliki ketertarikan yang merupakan sebuah anugerah tidak sengaja (atau sengaja), yaitu menikmati dan mengapresiasi film-film Indonesia seperti GIE, Fiksi, Tentang Dia, Ada Apa dengan Cinta, Radit dan Jani, Janji Joni, dan CIN(T)A. 

Karakter saya sangat bertolak belakang dengan Gadis Bundar nomor satu. Saya Melankolis-Plegmatis yang bekerja dengan detil dan tidak detil. Maksudnya, saya cermat mengamati hal-hal yang kadang orang tidak amati, tetapi luput mengamati hal-hal yang orang lain selalu amati. Detil tapi ceroboh tidak karuan. 

Saya menggemari Taylor Swift dengan album Fearless dan Speak Now, autobiografi jujur dengan melody catchy dari gadis remaja yang berani.
Saya mengagumi Kumpulan Cerita dan Prosa karya Dee, Filosofi Kopi dan bermimpi suatu saat saya akan menulis dan menerbitkan antologi.

Namun, mimpi saya yang sebenarnya adalah menjadi penulis screenplay untuk produksi film dan serial televisi, entah berbahasa Indonesia atau Inggris.
Sekarang sedang berusaha belajar mengamati dan menulis kejadian ke dalam level cerita pendek maupun puisi, serta tweets.
 

Gadis #1. Hai.

Gadis 1.

Usia 22 tahun 5 bulan.

Fisik: Tinggi di bawah rata-rata wanita normal, 'cuma' 1,5 meter. Tampang bulat, packaging keseluruhan lebih menyerupai anak SMA bahkan SMP.

Karakter: Koleris-Sanguin, ENTP.
Optimis, tomboy, penuh semangat, tukang berdebat, suka ide aneh-aneh (kreatif katanya), tidak jago urusan detail, sangat straight to the point.

Letak geografis kini: Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan.
Area pinggir ibukota Jakarta.

Aktivitas kini: baru saja memulai masa studi Magister Manajemen di sebuah Sekolah Tinggi Bisnis Swasta di Ibukota.

Mimpi: Mendirikan perusahaan kreatif berbasis media miliknya sendiri, target tahun 2014. Dalam cita-citanya, perusahaan ini bertujuan untuk membantu anak muda negeri ini untuk berani menemukan serta berani berjalan dalam passion hidupnya.

Gadis #2 merupakan rekan sekampus S1 Gadis #1.
Sedang Gadis #3 merupakan mantan dosen S1  Gadis #1.
Mereka bertiga punya panggilan khusus, 'Tun'.
Apa artinya, tanya saja pada Gadis #2.